adi-permana
Blog ini saya persembahkan untuk semua umat manusia. Ia berisi tulisan tentang pemikiran saya maupun hasil liputan selama tugas saya sebagai wartawan.
Minggu, 03 Juni 2012
Minggu, 27 Mei 2012
Haul Ke-7 Guru Sekumpul Haulan Terpadat
MARTAPURA - Boleh dikata, haulan ke-7 al-'Alim al-'Allamah al-Qutb ar-Rabbani wa al-Ghauts al-Fardani Syeikh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul yang dilaksanakan di Kompleks Ar Raudhah Sekumpul, Martapura, Minggu (27/5) sebagai haulan yang terpadat dari segi jamaahnya. Dari sejumlah sumber, dari nasi bungkus atau kotak yang diperkirakan menembus ratusan ribu, dapat ditaksir kalau pengunjung acara haulan mencapai 300.000.
Jalan Sekumpul, gang di kawasan tersebut, seperti Gg Mahabbah, Gg Bersama, Gg Taufiq dan lain-lain sejak Ashar sudah disesaki jamaah. Ini belum termasuk jamaah wanita yang memadati rumah-rumah besar di kawasan tersebut. Puluhan ribu sepeda motor dan ribuan mobil yang merangkak memasuki kawasan Sekumpul, termasuk ketika arus pulang begitu merepotkan ratusan petugas dari Polres Banjar, Kodim 1006 Martapura dan ratusan santri Sekumpul.
Ribuan jamaah menyesaki Gg Taufiq, akses terdekat ke kubah makam Guru Sekumpul. Puluhan petugas di depan pintu gerbang harus berperas keringat menahan arus jamaah yang berusaha masuk, meski area kubah sebenarnya sangat terbatas. "Maaf Pak, ini khusus untuk undangan saja. Di dalam terlalu sempit," kata seorang petugas setengah berteriak. Meski demikian, pelaksanaan haulan selepas maghrib berjalan dengan khidmat dan khusyuk.
Begitu shalat maghrib berjamaah yang dipimpin imam mushalla, Guru Sa'aduddin selesai, kemudian dilanjutkan lantunan ayat suci al-Qur'an, kemudian langsung pembacaan maulid Habsyi. Tampak di depan yang biasa dudukan almarhum, ditempati kedua anak almarhum, Muhammad Amin Badali dan Ahmad Hafi Badali. Di jejeran dekat kedua anak tersebut, ada sejumlah habaib dan para pejabat teras seperti Ketum Golkar Aburizal Bakrie, Gubernur Kalsedl H Rudy Ariffin, Bupati Banjar Pangeran Khairul Saleh, mantab Wagub Rosehan NB dan para ulama terkemuka lainnya.
Selepas Yasin diteruskan dengan ritual tahlil yang ditingkahi dengan nasyid dzikir. Doa haul sekaligus doa penutup acara dipimpin Habib Abdurrahman. Barula kemudian jamaah shalat Isya, dan kegiatan ibadah di kawasan yang terkenal itu selesai. adi
Diposkan oleh
Adi Permana bin H Ali Basrah bin Barihun bin Taib bin Katar
di
21:55
2
komentar
Link ke posting ini
Label:
Berita
Sabtu, 26 Mei 2012
Manaqib Guru Sekumpul
KYAI Haji Muhammad Zaini Abdul Ghani atau al-'Alim al-'Allamah al-Qutb ar-Rabbani wa al-Ghauts al-Fardani Syekh Muhammad Zaini bin al-Arif billah Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin Muhammad Sa’ad bin Abdullah bin al-Mufti Muhammad Khalid bin al-Alim al-Allamah al-Khalifah Hasanuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari (biasa dipanggil Abah Guru Sekumpul atau Tuan Guru Ijai), lahir di Dalam Pagar, 11 Februari 1942 dan meninggal di Martapura, 10 Agustus 2005 pada umur 63 tahun) adalah ulama Banjar yang sangat kharismatik dan populer di Kalimantan, khususnya Martapura dan Banjarmasin.
Ia dilahirkan pada malam Rabu 27 Muharram 1361 Hijriyah atau bertepatan pada tanggal 11 Februari 1942 di desa Dalam Pagar (sekarang masuk ke dalam kcamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar) dari pasangan suami-istri Abdul Ghani bin H Abdul Manaf dengan Hj Masliah binti H Mulya. Muhammad Zaini Abdul Ghani merupakan anak pertama, sedangkan adiknya bernama Hj Rahmah. Ketika masih kanak-kanak, ia dipanggil Qusyairi. Guru Sekumpul merupakan keturunan ke-8 dari ulama besar Banjar, Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari.
Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani sejak kecil selalu berada di samping ayah dan neneknya yang bernama Salbiyah. Kedua orang ini yang memelihara Qusyairi kecil. Sejak kecil keduanya menanamkan kedisiplinan dalam pendidikan. Keduanya juga menanamkan pendidikan tauhid dan akhlak serta belajar membaca Alquran. Karena itulah, guru pertama dari Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Ghani adalah ayah dan neneknya sendiri.
Semenjak kecil ia sudah digembleng orang tua untuk mengabdi kepada ilmu pengetahuan dan ditanamkan perasaan cinta kasih dan hormat kepada para ulama. Guru Ijai sewaktu kecil sering menunggu al-Alim al-Fadhil Syaikh Zainal Ilmi yang ingin ke Banjarmasin hanya semata-mata untuk bersalaman dan mencium tangannya.
Pada tahun 1949 saat berusia 7 tahun, ia mengikuti pendidikan “formal” masuk ke Madrasah Ibtidaiyah Darussalam, Martapura. Kemudian tahun 1955 pada usia 13 tahun, ia melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Darussalam, Martapura. Pada masa ini ia sudah belajar dengan Guru-guru besar yang spesialis dalam bidang keilmuan seperti al-Alim al-Fadhil Sya’rani Arif, al-Alim al-Fadhil Husain Qadri, al-Alim al-Fadhil Salim Ma’ruf, al-Alim al-Allamah Syaikh Seman Mulya, al-Alim Syaikh Salman Jalil, al-Alim al-Fadhil Sya’rani Arif, al-Alim al-Fadhil al-Hafizh Syaikh Nashrun Thahir dan KH Aini Kandangan.
Tiga yang terakhir merupakan gurunya yang secara khusus untuk pendalaman Ilmu Tajwid. Syaikh Seman Mulya adalah pamannya yang secara intensif mendidiknya baik ketika berada di sekolah maupun di luar sekolah. Dan etika mendidik Guru Sekumpul, Guru Seman hampir tidak pernah mengajarkan langsung bidang-bidang keilmuan itu kepadanya kecuali di sekolahan. Tetapi, Guru Seman langsung mengajak dan mengantarkan dia mendatangi tokoh-tokoh yang terkenal dengan sepesialisasinya masing-masing baik di daerah Kal-Sel (Kalimantan) maupun di Jawa untuk belajar. Seperti misalnya ketika ingin mendalami Hadits dan Tafsir, guru Seman mengajak (mengantarkan) Guru Sekumpul kepada al-Alim al-Allamah Syaikh Anang Sya’rani yang terkenal sebagai muhaddits dan ahli tafsir. Menurut Guru Ijai sendiri, di kemudian hari ternyata Guru Tuha Seman Mulya adalah pakar di semua bidang keilmuan Islam itu. Tapi karena kerendahan hati dan tawadhu tidak menampakkannya ke depan khalayak.
Sedangkan al-Alim al-Allamah Salman Jalil adalah pakar ilmu falak dan ilmu faraidh. (Pada masa itu, hanya ada dua orang pakar ilmu falak yang diakui ketinggian dan kedalamannya yaitu beliau dan almarhum K.H. Hanafiah Gobet). Selain itu, Salman Jalil juga adalah Qhadi Qudhat Kalimantan dan salah seorang tokoh pendiri IAIN Antasari Banjarmasin. Salman Jalil ini pada masa tuanya kembali berguru kepada Guru Sekumpul sendiri. Peristiwa ini yang ia contohkan kepada generasi sekarang agar jangan sombong, dan lihatlah betapa seorang guru yang alim besar tidak pernah sombong di hadapan kebesaran ilmu pengetahuan, meski yang sekarang sedang menyampaikannya adalah muridnya sendiri.
Selain itu, di antara guru-guru Guru Ijai lagi selanjutnya adalah Syekh Syarwani Abdan Bangil, al-Alim al-Allamah al-Syaikh al-Sayyid Muhammad Amin Kutbi. Kedua tokoh ini biasa disebut Guru Khusus beliau, atau meminjam perkataan beliau sendiri adalah Guru Suluk (Tarbiyah al-Shufiyah).
Dari beberapa gurunya lagi adalah Kyai Falak (Bogor), Syaikh Yasin bin Isa Padang (Makkah), Syaikh Hasan Masyath, Syaikh Ismail al-Yamani dan Syaikh Abdul Kadir al-Bar. Sedangkan guru pertama secara ruhani ialah al-Alim al-Allamah Ali Junaidi (Berau) bin al-Alim al-Fadhil Qadhi Muhammad Amin bin al-Alim al-Allamah Mufti Jamaludin bin Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari dan al -Alim al-Allamah Muhammad Syarwani Abdan Bangil.
Gemblengan ayah dan bimbingan intensif pamannya semenjak kecil betul-betul tertanam. Semenjak kecil ia sudah menunjukkan sifat mulia; penyabar, ridha, pemurah, dan kasih sayang terhadap siapa saja. Kasih sayang yang ditanamkan dan juga ditunjukkan oleh ayahnya sendiri. Seperti misalnya, suatu ketika hujan turun deras, sedangkan rumah Guru Sekumpul sekeluarga sudah sangat tua dan reot. Sehingga air hujan merembes masuk dari atap-atap rumah.Pada waktu itu, ayahnya menelungkupinya untuk melindungi tubuhnya dari hujan dan rela membiarkan dirinya sendiri tersiram hujan.
Abdul Ghani bin Abdul Manaf, ayah dari Guru Sekumpul juga adalah seorang pemuda yang saleh dan sabar dalam menghadapi segala situasi dan sangat kuat dengan menyembunyikan derita dan cobaan. Tidak pernah mengeluh kepada siapapun. Cerita duka dan kesusahan sekaligus juga merupakan intisari kesabaran, dorongan untuk terus berusaha yang halal, menjaga hak orang lain, jangan mubazir, bahkan sistem memenej usaha dagang dia sampaikan kepada generasi sekarang lewat cerita-cerita itu.
Beberapa cerita yang diriwayatkan adalah sewaktu kecil mereka sekeluarga yang terdiri dari empat orang hanya makan satu nasi bungkus dengan lauk satu biji telur, dibagi empat. Tak pernah satu kalipun di antara mereka yang mengeluh. Pada masa-masa itu juga, ayahnya membuka kedai minuman. Setiap kali ada sisa teh, ayahnya selalu meminta izin kepada pembeli untuk diberikan kepada Qusyairi. Sehingga kemudian sisa-sisa minuman itu dikumpulkan dan diberikan untuk keluarga.
Adapun sistem mengatur usaha dagang, ayah Guru Sekumpul menyampaikan bahwa setiap keuntungan dagang itu mereka bagi menjadi tiga. Sepertiga untuk menghidupi kebutuhan keluarga, sepertiga untuk menambah modal usaha, dan sepertiga untuk disumbangkan. Salah seorang ustadz setempat pernah mengomentari hal ini, “Bagaimana tidak berkah hidupnya kalau seperti itu.” Pernah sewaktu kecil Qusyairi bermain-main dengan membuat sendiri mainan dari gadang pisang. Kemudian sang ayah keluar rumah dan melihatnya. Dengan ramah sang ayah menegurnya, “Nak, sayangnya mainanmu itu. Padahal bisa dibuat sayur.” Qusyairi langsung berhenti dan menyerahkannya kepada sang ayah.
Beberapa Catatan lain berupa beberapa kelebihan dan keanehan Qusyairi adalah dia sudah hafal Al-Qur'an semenjak berusia 7 tahun. Kemudian hapal tafsir Jalalain pada usia 9 tahun. Semenjak kecil, pergaulannya betul-betul dijaga. Kemana pun bepergian selalu ditemani. Pernah suatu ketika Qusyairi ingin bermain-main ke pasar seperti layaknya anak sebayanya semasa kecil. Saat memasuki gerbang pasar, tiba-tiba muncul pamannya, Syaikh Seman Mulya di hadapannya dan memerintahkan untuk pulang. Orang-orang tidak ada yang melihat Syekh, begitu juga sepupu yang menjadi ”bodyguard”-nya. Dia pun langsung pulang ke rumah.
Dalam usia kurang lebih 10 tahun, sudah mendapat khususiat dan anugerah dari Tuhan berupa Kasyaf Hissi yaitu melihat dan mendengar apa yang ada di dalam atau yang terdinding. Dalam usia itu pula Qusyairi didatangi oleh seseorang bekas pemberontak yang sangat ditakuti masyarakat akan kejahatan dan kekejamannya. Kedatangan orang tersebut tentunya sangat mengejutkan keluarga di rumah beliau. Namun apa yang terjadi, laki-laki tersebut ternyata ketika melihat Qusyairi langsung sungkem dan minta ampun serta memohon minta dikontrol atau diperiksakan ilmunya yang selama itu ia amalkan, jika salah atau sesat minta dibetulkan dan dia pun minta agar supaya ditobatkan.
Pada usia 9 tahun pas malam jumat Qusyairi bermimpi melihat sebuah kapal besar turun dari langit. Di depan pintu kapal berdiri seorang penjaga dengan jubah putih dan di gaun pintu masuk kapal tertulis “Sapinah al-Auliya”. Qusyairi ingin masuk, tapi dihalau oleh penjaga hingga tersungkur. Dia pun terbangun. Pada malam jum’at berikutnya, ia kembali bermimpi hal serupa. Dan pada malam jumat ketiga, ia kembali bermimpi serupa. Tapi kali ini ia dipersilahkan masuk dan disambut oleh salah seorang syekh. Ketika sudah masuk ia melihat masih banyak kursi yang kosong.
Ketika Qusyairi merantau ke tanah Jawa untuk mencari ilmu, tak disangka tak dikira orang yang pertama kali menyambutnya dan menjadi guru adalah orang yang menyambutnya dalam mimpi tersebut.
Salah satu pesan Guru Sekumpul adalah tentang karamah, yakni agar kita jangan sampai tertipu dengan segala keanehan dan keunikan. Karena bagaimanapun juga karamah adalah anugrah, murni pemberian, bukan suatu keahlian atau skill. Karena itu jangan pernah berpikir atau berniat untuk mendapatkan karamah dengan melakukan ibadah atau wiridan-wiridan. Dan karamah yang paling mulia dan tinggi nilainya adalah istiqamah di jalan Allah itu sendiri. Kalau ada orang mengaku sendiri punya karamah tapi salatnya tidak karuan, maka itu bukan karamah, tapi bakarami (orang yang keluar sesuatu dari duburnya).
Guru Sekumpul juga sempat memberikan beberapa pesan kepada seluruh masyarakat Islam, yakni menghormati ulama dan orang tua, baik sangka terhadap muslimin, murah harta, manis muka, jangan menyakiti orang lain, mengampunkan kesalahan orang lain, jangan bermusuh-musuhan, jangan tamak atau serakah, berpegang kepada Allah, pada kabul segala hajat, serta yakin keselamatan itu pada kebenaran.
Ribuan warga Kota Martapura dan sekitarnya berduyun-duyun menuju lokasi Guru Sekumpul akan dimakamkan dan memenuhi kawasan Jl Sekumpul, Martapura.
Karya tulisnya adalah sebagai berikut , Risalah Mubaraqah, Manaqib Asy-Syekh As-Sayyid Muhammad bin Abdul Karim Al-Qadiri Al-Hasani As-Samman Al-Madani, Ar-Risalatun Nuraniyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah dan Nubdzatun fi Manaqibil Imamil Masyhur bil Ustadzil a’zham Muhammad bin Ali Ba’alawy.
KH Muhammad Zaini Abdul Ghani sempat dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, selama 10 hari. Selasa malam, 9 Agustus 2005, sekitar pukul 20.30, Guru Sekumpul tiba di Bandar Udara Syamsuddin Noor, Banjarbaru, dengan menggunakan pesawat carter F-28.
Pada hari Rabu, tanggal 10 Agustus 2005 pukul 05.10 pagi, Guru Sekumpul menghembuskan napas terakhir dan berpulang ke rahmatullah pada usia 63 tahun di kediamannya sekaligus komplek pengajian, Sekumpul Martapura. Guru Sekumpul meninggal karena komplikasi akibat gagal ginjal.
Begitu mendengar kabar meninggalnya Guru Sekumpul lewat pengeras suara di masjid-masjid selepas salat subuh, masyarakat dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan berdatangan ke Sekumpul Martapura untuk memberikan penghormatan terakhir pada almarhum.
Pasar Martapura yang biasanya sangat ramai pada pagi hari, Rabu pagi itu sepi karena hampir semua kios dan toko-toko tutup. Suasana yang sama juga terlihat di beberapa kantor dinas, termasuk Kantor Bupati Banjar. Sebagian besar karyawan datang ke Sekumpul untuk memberikan penghormatan terakhir.
Sebelum dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di dekat Mushalla Ar Raudhah, Rabu sore sekitar pukul 16.00, warga masyarakat yang datang diberikan kesempatan untuk melakukan salat jenazah secara bergantian. Kegiatan ibadah ini berpusat di Mushalla Ar Raudhah, Sekumpul, yang selama ini dijadikan tempat pengajian oleh Guru Sekumpul. adi/wikipedia
Diposkan oleh
Adi Permana bin H Ali Basrah bin Barihun bin Taib bin Katar
di
22:26
0
komentar
Link ke posting ini
Label:
Berita
Kamis, 24 Mei 2012
300 Personil Dan 14 Titik Parkir
MARTAPURA - Persiapan pelaksanaan Haul VII Al Alimul Allamah Al Arifbillah As Syeikh HM Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul,
Minggu (27/5) malam di Mushalla Ar Rudhah, Sekumpul, Martapura, ternyata mesti melibatkan aparat keamanan, terdiri Polres Banjar
sekitar 130 termasuk 50 Polantas, TNI dari Kodim 1006 Martapura dan lain-lain hingga total 300 aparat. Ini masih dibantu lagi oleh
ratusan santri majelis Sekumpul.
Banyaknya aparat ini tentu saja guna mengantisipasi bakal padatnya gelaran haulan yang diperkirakan menghadirkan
300.000 jamaah baik dari Martapura, pelosok Kalsel hingga luar Kalsel.
Padatnya jamaah kelak, juga membuat panitia menyiapkan lahan kosong di area Sekumpul tak kurang dari 13 titik. Namun,
titik parkir ini juga diperkirakan tak cukup menampung kendaraan jamaah, terdiri mobil dan sepeda motor, sehingga Sat Lantas Polres
Banjar menyiapkan satu titik lagi di Pusat Perbelanjaan Sekumpul yang kebetulan berhadapan dengan muara Jalan Sekumpul.
Kebetulan, area PPS cukup luas untuk parkir karena PPS belum berfungsi penuih menjadi pasar alternatif.
Kasat Lantas Polres Banjar, AKP Henry N Chandra mewakili Kapolres Banjar AKBP Dwi Ariwibowo mengatakan, setidaknya ada
300 personil dan 14 titik parkir.
"Lalu lintas di jalan provinsi masih seperti biasa, tak ada pengalihan jalur. Namun, pada Minggu itu, pada pukul 16.00 Wita,
muara Jalan Sekumpul tertutup untuk kendaraan, sehingga hanya jamaah dengan berjalan kaki yang diperbolehkan masuk hingga
Kompleks Sekumpul," cetusnya.
Pangaturan, jamaah yang datang dari arah Hulu Sungai, mesti memasuki Jalan Sultan Adam, tembus Jalan Tanjung Rema,
memutar Jalan Lapas Martapura dan Gang Suwardi dan Gg Madrasah. Sementara dari arah Banjarmasin bisa masuk dari Jalan Guntung
Alaban dan sudah ada lima titik parkir dipersiapkan. Alternatif lain jamaah bisa masuk dari Batas Kota, terus Bani Ahdal Gunung
Ronggeng dan masuk Jalan Pendidikan.
"Kami berharap, jamaah yang bersepeda motor tetap mengenakan helm demi keselamatan diri. Bahkan kalau bisa, jamaah tak
perlu membawa kendaraan pribadi, melainkan berkelompok dengan menumpang angkutan umum atau carteran demi menghemat area
parkir dan mengurangi kemacetan," sarannya. Henry juga menyarankan agar area PPS bisa lebih dimaksimalkan untuk digunakan
jamaah memarkir kendaraannya.
Sementara itu, salah seorang panitia, Ali Muzakkir mengabarkan, di area tertentu gang-gang di Kompleks Sekumpul sudah
berbenah dan mempersiapkan konsumsi bagi jamaah. "Di Gang Taufiq, Gang Mahabbah dan Gg Bersama sudah disiapkan tenda-tenda
untuk menyiapkan konsumsi. Ada ratusan tenaga yang membantu, baik dari santri majelis Sekumpul sendiri maupun dibantu pula
oleh rekan jamaah dari Banjarmasin seperti para santri Guru Zuhdi," terangnya.
Guru Sekumpul wafat pada 10 Agustus 2005 sekitar pukul 05.00 Wita atau waktu shubuh. Tanggal masehi itu bertepatan
dengan 5 Rajab 1426 Hijriyah. Ulama dan wali qutub yang dicintai jamaahnya dan masyarakat awam ini memang beberapa tahun
sebelumnya menderita sakit keras sampai dirawat di RS Mount Elizabeth Singapura.
Guru Sekumpul berdasarkan catatan Aman Fatha (11 Agustus 2005) merupakan putra al-Arif billah Abdul Ghani bin Abdul
Manaf bin Muhammad Seman bin Muhammad Sa’ad bin Abdullah bin al-Mufti Muhammad Khalid bin al-Alim al-Allamah al-Khalifah
Hasanuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Ghani yang selagi kecil dipanggil dengan nama Qusyairi adalah anak dari
perkawinan Abdul Ghani bin H Abdul Manaf dengan Hj Masliah binti H Mulya. Muhammad Zaini Ghani merupakan anak pertama,
sedangkan adiknya bernama H Rahmah.Beliau dilahirkan di Tunggul Irang, Dalam Pagar, Martapura pada malam Rabu tanggal 27
Muharram 1361 H bertepatan dengan tanggal 11 Februari 1942 M.
Ulama kebanggan urang Banjar ini terkenal hingga ke mancanegara, apalagi sejak derajat kewaliannya menanjak sejak 2001
lalu. Bahkan beliau dipercaya sebagai wali qutub atau pemegang pangkat tertinggi dalam dunia wali, di mana wali berbagai tingkatan di
dunia berjumlah 124.000. adi
Diposkan oleh
Adi Permana bin H Ali Basrah bin Barihun bin Taib bin Katar
di
21:33
0
komentar
Link ke posting ini
Label:
Berita
Rabu, 23 Mei 2012
Panitia Siap Sambut 300.000 Jamaah Haul VII Guru Sekumpul
MARTAPURA - Persiapan pelaksanaan Haul VII Al Alimul Allamah Al Arifbillah As Syeikh HM Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul,
Minggu (27/5) malam di Mushalla Ar Rudhah, Sekumpul, Martapura, sudah semakin dimatangkan oleh panitia.
Dari kabar panitia, diperkirakan, haulan tahun ini bakal dihadiri sekitar 300.000 jamaah yang datang selain dari Martapura,
pelosok Kalsel dan juga luar Kalsel. Bahkan, ada jamaah yang akan datang dari Pulau Jawa, Sumatra dan lain-lain.
Kawasan Sekumpul juga sejak beberapa hari terakhir sudah dipersolek dengan dipasangi umbul-umbul di tepi Jalan
Sekumpul. Jalan utama kawasan itu juga telah diberi garis-garis putih sebagai patokan jamaah menggelar sajadah.
Di gang-gang seputar majlis Sekumpul, seperti Gang Taufiq, Mahabbah, dan lainnya berdiri tenda-tenda sebagai tempat
berteduh bagi panitia yang akan memasak nasi dan lauk guna dikemas dalam kotak atau bungkusan guna disuguhkan ke para jamaah.
Dari kabar yang dapat dipercaya, untuk menjamu 300.000 jamaah, panitia menyiapkan setidaknya 7,5 ton daging sapi serta
beras sebanyak 1.500 blek atau 30.000 liter. Menurut Agus Fahlevie, salah seorang panitia di Pos Ghasak, Gang Bersama dekat majlis
Sekumpul, untuk pos mereka saja diproyeksikan menyiapkan 7.500 nasi kotak atau bungkus.
Agus dalam obrolan ringan di grup Facebook, Para Pecinta Abah Guru Sekumpul mengatakan, untuk pos lain yang banyak
tersebar bahkan jumlah nasi bungkus yang disiapkan lebih banyak. "Di pos kami, malah jumlah itu yang terkecil. Pos-pos lain jauh
lebih banyak, puluhan ribu bungkus," ungkapnya.
Fakta menarik, dari tahun ke tahun, jamaah yang mengikuti haul Guru Sekumpul semakin meningkat. Jika tahun
sebelumnya, menurut informasi jamaah mencapai 250.000, maka tahun ini bisa mencapai 300.000. Maka dapat dipastikan, jalan-jalan,
gang-gang bahkan rumah penduduk setempat yang berkenan menyiapkan tempat bagi jamaah akan sesak.
Guru Sekumpul wafat pada 10 Agustus 2005 sekitar pukul 05.00 Wita atau waktu shubuh. Tanggal masehi itu bertepatan
dengan 5 Rajab 1426 Hijriyah. Ulama dan wali qutub yang dicintai jamaahnya dan masyarakat awam ini memang beberapa tahun
sebelumnya menderita sakit keras sampai dirawat di RS Mount Elizabeth Singapura.
Guru Sekumpul berdasarkan catatan Aman Fatha (11 Agustus 2005) merupakan putra al-Arif billah Abdul Ghani bin Abdul
Manaf bin Muhammad Seman bin Muhammad Sa’ad bin Abdullah bin al-Mufti Muhammad Khalid bin al-Alim al-Allamah al-Khalifah
Hasanuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Ghani yang selagi kecil dipanggil dengan nama Qusyairi adalah anak dari
perkawinan Abdul Ghani bin H Abdul Manaf dengan Hj Masliah binti H Mulya. Muhammad Zaini Ghani merupakan anak pertama,
sedangkan adiknya bernama H Rahmah.Beliau dilahirkan di Tunggul Irang, Dalam Pagar, Martapura pada malam Rabu tanggal 27
Muharram 1361 H bertepatan dengan tanggal 11 Februari 1942 M.
Diceriterakan oleh Abu Daudi, Asy Syekh Muhammad Ghani sejak kecil selalu berada di samping ayah dan neneknya yang
bernama Salbiyah. Kedua orang ini yang memelihara Qusyairi kecil. Sejak kecil keduanya menanamkan kedisiplinan dalam pendidikan.
Ditempa sedemikian, menjadikan Qusyairi kecil menjadi anak yang saleh, sampai dewasa bahkan semakin alim pada masa tuanya.
adi/berbagai sumber
.
Diposkan oleh
Adi Permana bin H Ali Basrah bin Barihun bin Taib bin Katar
di
14:02
0
komentar
Link ke posting ini
Label:
Berita
Selepas shalat...
Diposkan oleh
Adi Permana bin H Ali Basrah bin Barihun bin Taib bin Katar
di
12:52
0
komentar
Link ke posting ini
Label:
Foto
Yusril Tertawakan Pendapat Ketua Muda Pidsus MA
JAKARTA - Pernyataan Ketua Muda Pidana Khusus Mahkamah Agung Djoko Sarwoko, juga Juru Bicara MA, Jumat (18/5) di Jakarta lalu,
mengenai putusaan hakim yang tanpa disertai perintah penahanan sebenarnya sudah jamak, dan sah untuk dieksekusi mendapat
tanggapan dari pakar hukum, Yusril Ihza Mahendra.
Bahkan, Yusril menertawakan pendapat Djoko tersebut ketika dimintai pendapatnya oleh sejumlah wartawan ibukota.
"Hahahahaha…, siapapun penegak hukumnya, tidak perlu menafsirkan kemana-mana, cukup mengacu pada KUHAP pasal 197 ayat 1
dan 2, karena isinya sudah sangat-sangat jelas dan tegas mengatur putusan yang batal demi hukum. Sebagai penegak hukum yang
baik, ikutilah aturan undang-undang tersebut,” katanya.
Ia mengatakan bahwa yang namanya putusan batal demi hukum, adalah putusan yang sejak semula dianggap tidak ada dan
tidak pernah ada, jadi putusan itu tidak mempunyai kekuatan untuk dieksekusi. “Begini uraiannya, misalnya di tingkat pengadilan
negeri terdakwa dinyatakan bebas murni, kemudian tahap selanjutnya muncul kasasi dari JPU yang padahal tidak diperbolehkan
(melanggar pasal 244 KUHAP), namun ujung-ujungnya MA menghukum. Namun dalam menghukum terdakwa yang bebas murni tadi,
lagi-lagi muncul putusan yang tidak menyebutkan syarat formal pemidanaan atau tidak memenuhi pasal 197 ayat 1 huruf k, yang
otomatis tidak bisa dieksekusi. Normalnya, putusan yang dikeluarkan MA semestinya mengeluarkan perintah, kalau di dalam tahanan
tetap menetapkan terdakwa di tahanan, kalau bebas ya harus dilaksanakan eksekusi bebasnya,” ujarnya.
Lalu bagaimana jika ada oknum-oknum baik di tingkat Kejaksaan Agung maupun di Kejaksaan Tinggi tetap berupaya
memaksakan kehendak mengeksekusi seperti yang saat ini dihadapi Direktur PT Satui Bara Tama H Parlin Riduansyah. “Wah ini lebih
fatal, jaksa yang bersangkutan merampas kemerdekaan orang lain dan bisa dikenakan pasal 333 KUHP yang berbunyi, barang siapa
dengan sengaja dan melawan hukum merampas kemerdekaan seseorang atau meneruskan perampasan kemerdekaan yang demikian,
diancam dengan pidana penjara 8 tahun. Begitu juga dengan Jaksa Agungnya, yang tahu tapi pura-pura tidak tahu soal pasal 197 ayat
1 huruf k KUHAP, maka Jaksa Agung juga dijerat dengan pasal-pasal 333 jo pasal 55 ayat satu kesatu KUHP, artinya Jakgung bersama-
sama melakukan atau turut serta dengan JPU melaksanakan eksekusi putusan batal demi hukum. Yang lebih pokok lagi, mereka
dipastikan melanggar HAM,” bebernya.
“Kalau memang banyak ‘korban-korban’ yang sudah bebas murni namun ‘diposisikan’ seperti ini, segera menghadap ke saya,
biar saya langsung yang melaporkan ke kepolisian agar Jaksa Agungnya segera ditangkap dan dipenjara, karena ancaman hukuman
pasal 333 KUHP di atas 5 tahun penjara, dan siapapun penegak hukumnya, pasti bisa dipenjara,” tegasnya.
Memang, sebelumnya di beberapa media, Jaksa Agung Basrief Arief sempat melontarkan kalau pihaknya mengikuti saja aturan
yang tertuang dalam pasal 197 KUHAP. Namun belakangan beredar isu kalau Jakgung mulai plin-plan, dan kembali melakukan upaya
eksekusi yang diduga atas ‘bisikan’ seseorang. Menurut Yusril, Jakgung jangan sampai salah langkah. “KUHAP adalah sebuah hukum
acara pidana yang diatur undang-undang khusus tak terkecuali pasal 197 ayat 1 dan 2 KUHAP, jadi jaksa maupun hakim tidak bisa
menafsirkan apa-apa lagi, karena sudah wajib hukumnya melaksanakan undang-undang yang sifatnya mutlak,” cetusnya.
Senada, Ketua Komisi III DPR, Benny K Harman menyayangkan stetmen Djoko Sarwoko dari MA itu. Menurutnya, itu sebagai bukti kalau
aparat hukum masih juga menabrak norma hukum yang sudah disepakati dalam KUHAP. metrotvnews/adi
Diposkan oleh
Adi Permana bin H Ali Basrah bin Barihun bin Taib bin Katar
di
12:46
0
komentar
Link ke posting ini
Label:
Berita
Langganan:
Entri (Atom)



